19 Feb 2012

cek cek cek

Author: dwi.setianingrum10 | Filed under: praktikum penkom

praktikum penkom pertama cukup menyenangkan lah hehe

13 Sep 2010

Cerita Inspirasi Pengalaman Pribadi

Author: dwi.setianingrum10 | Filed under: Goresan kisah

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Perkenalkan saya Dwi Ayu Setianingrum , G84100013 dari fakultas MIPA , Departemen Biokimia.  Silahkan membaca cerita Inspirasi yang udah saya buat semoga bisa menginspirasi semuanya juga .

Bacharuddin Jusuf Habibie atau dikenal sebagai BJ Habibie (73 tahun) merupakan pria Pare-Pare (Sulawesi Selatan) kelahiran 25 Juni 1936. Dimasa kecil, Habibie telah menunjukkan kecerdasan dan semangat tinggi pada ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya Fisika. Selama enam bulan, ia kuliah di Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB), dan dilanjutkan ke Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule – Jerman pada 1955. Dengan dibiayai oleh ibunya,  R.A. Tuti Marini Puspowardoyo, Habibie muda menghabiskan 10 tahun untuk menyelesaikan studi S-1 hingga S-3 di Aachen-Jerman.Berbeda dengan rata-rata mahasiswa Indonesia yang mendapat beasiswa di luar negeri, kuliah Habibie (terutama S-1 dan S-2) dibiayai langsung oleh Ibunya yang melakukan usaha catering dan indekost di Bandung setelah ditinggal pergi suaminya (ayah Habibie). Habibie mengeluti bidang Desain dan Konstruksi Pesawat di Fakultas Teknik Mesin. Selama lima tahun studi di Jerman akhirnya Habibie memperoleh gelar Dilpom-Ingenenieur atau diploma teknik (catatan : diploma teknik di Jerman umumnya disetarakan dengan gelar Master/S2 di negara lain) dengan predikat summa cum laude.

Habibie dikenal dengan bapak teknologi Indonesia , sekilas tentang biografinya .saya sangat kagum kepada beliau , kegigihan dalam sekolah sambil bekerja hingga mengantarkannya lulus dari salah satu universitas di Jerman dan sukses disana. Kecerdasannya dari sejak SMA sungguh luar biasa, Habibie sukses dimasa mudanya dari segi materi dan kariernya sudah sangat cukup. Perjuangannya yang tidak pernah meyerah memberiku pelajarn yang sangat berarti.

Pengalaman saya waktu SMA kelas XII adalah saat yang paling sulit buat saya  karena disinilah masa depan kita menjadi penentu. Dua hal besar yang harus saya hadapi yang pertama adalah UN (Ujian Nasional) dan yang kedua adalah Ujian Masuk PTN (Perguruan Tinggi Negeri) . UN sungguh menjadi hal yang paling ditakutkan oleh hampir semua siswa termasuk saya, karena banyak cerita tentang orang-orang pintar yang gagal pada UN. Saya pun juga ikut merasa takut tapi dengan semangat yang luar biasa saya harus yakin kalau saya pasti bisa melewatinya. Persiapan banyak dilakukan demi menghadapi UN mulai dari mengikuti les sampai penambahan jam belajar disekolah , belum lagi di rumah mencoba belajar sendiri yang intensif setiap hari. Beberapa bulan mempersiapkan untuk menghadapi UN , di sisi lan saya juga belajar untuk ujiam masuk PTN. Tapi Alhamdulillah sebelum saya mengikuti ujian masuk PTN, saya lolos USMI IPB , di sini saya merasa sangatbersyukur sekali karena jalan saya di mudahakan.

Ujian Nasional pun tiba, dengan rasa campur aduk ,deg-degan, nerveos, takut semuanya ada. Tapi saya berusaha mengerjakannya dengan baik. Ujian Nasionalpun terlewati tinggal menunggu pengumuman saja. Sebulan saya menunggu pengumuman itu , setiap hari  saya tiada henti-hentinya berdoa semoga hasilnya baik. Sampai saat itu pun tiba, hari diumumkannya hasil UN, dengan sangat berharap semoga hasil itu baik. Pak pos yang mengantarkan pengumuman itu ke rumah masing-masing, dengan sangat deg-degan saya membuka ampol itu dan hasilnyaaa……

Alhamdulillah saya LULUS , nilainya juga memuaskan , terimakasih ya Allah atas semua rizki yang telah engkau berikan. Saya pun bangga dan sangat terharu.

13 Sep 2010

Cerita Inspirasi Orang Lain

Author: dwi.setianingrum10 | Filed under: Goresan kisah

Garam dan Telaga
Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi. datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah.
Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.
Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya.
Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama, la lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba. minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar Pak tua itu.
“Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu. sambil meludah kesamping.
Pak Tua itu, sedikit tersenyum, la. lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.
Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air. mengusik ketenangan telaga itu. “Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah.Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi. “Bagaimana rasanya?”.
“Segar”, sahut tamunya. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi. ‘Tidak”, jawab si anak muda.
Dengan bijak. Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. la lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.
Tapi kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu. akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.
Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adalah wadah itu.
Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas,buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”
Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam”, untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.

bit torrents lotus karls mortgage calculator mortgage calculator uk Original premium news theme